The Geography of Bliss: One Grump's Search for the Happiest Places in the World

The Geography of Bliss: One Grump's Search for the Happiest Places in the World - Eric Weiner

Weiner spent a decade as a foreign correspondent reporting from such discontented locales as Iraq, Afghanistan, and Indonesia. Unhappy people living in profoundly unstable states, he notes, inspire pathos and make for good copy, but not for good karma. So Weiner, admitted grump and self-help book aficionado, undertook a year's research to travel the globe, looking for the "unheralded happy places." The result is this book, equal parts laugh-out-loud funny and philosophical, a journey into both the definition of and the destination for true contentment.Apparently, the happiest places on earth include, somewhat unexpectedly, Iceland, Bhutan, and India. Weiner also visits the country deemed most malcontent, Moldova, and finds real merit in the claim.But the question remains: What makes people happy? Is it the freedom of the West or the myriad restrictions of Singapore? The simple ashrams of India or the glittering shopping malls of Qatar?From the youthful drunkenness of Iceland to the despond of Slough, a sad but resilient town in Heathrow's flight path, Weiner offers wry yet profound observations about the way people relate to circumstance and fate.Both revealing and inspirational, perhaps the best thing about this hilarious trip across four continents is that for the reader, the "geography of bliss" is wherever they happen to find themselves while reading it.

Published: 2008-01-28 (Twelve)

ISBN: 9780446580267

Language: English

Format: Paperback, 335 pages

Goodreads' rating: -

Reviews

Morrie rated it

Sesungguhnya aku ingin sekali memberikan bintang 4 untuk buku ini jika melihat rekomendasi dari teman-teman yang sudah membaca. Baiklah, buku ini memang bagus. Banyak hal yang dapat kupelajari dan kugarisbawahi. Namun sepertinya ada hal yang membuatku merasa tidak sreg dengan buku ini. Bukan karena waktu membaca yang salah melainkan karena konten buku ini sendiri. Menurutku, bab-bab awal buku ini terasa cukup menyenangkan untuk dibaca karena aku cukup tertarik mengetahui lebih jauh mengenai pemikiran seorang penggerutu seperti Weiner dalam menanggapi hal yang terjadi di sekelilingnya. Weiner juga merupakan orang yang kritis. Beberapa kali aku sering sedikit terkejut dengan pemikirannya yang tidak kupikirkan sebelumnya karena merasa itu adalah hal yang normal, namun Weiner mempertanyakan hal tersebut. Menuju bab pertengahan, aku mulai merasa kesulitan untuk meneruskan bacaan ini karena merasa sangat bosan dengan repetisi yang sama. Perjalanan ke suatu tempat yang dikatakan bahagia/tidak bahagia, kemudian mewawancarai beberapa orang lokal dan menyimpulkan berbagai hal. Pada tiga bab terakhir sebelum penutup, aku benar-benar sangat bosan karena merasa bab Inggris dan bab Amerika terasa sangat dipaksakan untuk ada di dalam buku itu. Tapi aku cukup suka dengan kontradiksi dalam pemikiran India. Namun sepanjang membaca itu aku tidak bisa berhenti memikirkan film Slumdog Millionaire. Dan berpikir, apakah perbedaan sosial yang sangat jauh itu membahagiakan?Untuk dapat benar-benar memahami esensi buku ini, kurasa pertama-tama kita tidak boleh melupakan bahwa buku ini ditulis oleh seorang Amerika. Menurutku, seperti yang sudah diakui oleh Weiner sendiri, orang Amerika punya kecenderungan untuk sugar-coated the word. Mereka selalu mempermanis segala hal agar terlihat lebih baik dan penuh harapan. Seperti halnya dongeng-dongeng disney yang pada cerita aslinya tidak lah seperti itu. :')Namun dalam perjalanan menemukan esensi yang sesungguhnya dari buku ini, harus kuakui cukup memberikan banyak hal. Terutama mengenai kontradiksi yang perlu kita rangkul bukannya hindari. Ada satu paragraf di bab Qatar yang membuat aku merenungkan hal tersebut.Itu adalah bab ketika Weiner mengatakan Qatar bisa saja negara yang amat kaya raya, tapi mereka tidak punya sejarah maupun budaya. Itu seakan-akan seperti tidak punya rumah. Kemudian ia membandingkan dengan Swiss yang punya beragam bahasa dan kebangsaan yang berbeda namun mereka tampak sangat harmonis. Ada satu hal yang menyatukan mereka, itu adalah sejarah. Itu adalah perkataan dari orang Swiss sendiri. Sejarah Swisslah yang menyatukan beragam etnis yang tidak saling memahami itu karena berbicara dengan bahasa yang berbeda. Hal itu membuat aku membandingkan dengan Indonesia yang notabenenya punya etnis dan mengakui begitu banyak agama. Namun mengapa Indonesia tidak bisa seharmonis Swiss? Padahal kita masih punya satu bahasa nasional di luar bahasa-bahasa daerah yang kita pakai, tapi mengapa kita lebih tidak saling memahami satu sama lain. Malah saling bertengkar dan mempermasalahkan hal yang sesungguhnya tidak penting? Meskipun prosesnya berbeda-beda untuk setiap daerah, tapi kita sama-sama berjuang untuk kemerdekaan.Pada bab lain, ketika Weiner bertemu dengan orang-orang yang merasa rumahnya adalah di suatu negara lain yang bukan negara asalnya. Hal itu sempat membuatku berpikir juga karena aku pernah merasakan hal tersebut ketika dua tahun lalu hinggap di Korea Selatan. Sempat memikirkan apakah dengan begitu, aku harus pindah ke tempat itu karena berkali-kali aku berpikir ingin ke sana meskipun sudah pernah ke sana. Ada suatu perasaan nyaman seperti di rumah ketika baru saja menjejakan kaki di tempat itu. Semua tidak terasa asing meskipun aku tidak sepenuhnya paham bahasa mereka. Bahkan suhu dingin saat itu pun tidak membuatku merasa tidak nyaman, kecuali saat berada di ketinggian namsan tower dan suhu itu mencapai minus 10 ke bawah. Haha. Tapi, perkataan Weiner lain membuatku berpikir ulang. Ada orang-orang yang memang ditakdirkan tidak cocok dengan tempat asalnya dan berpindah dari sana, namun apa pula yang tidak cocok tapi terus menetap di sana untuk membuat perubahan di sana. Namun kemudian, di bab lainnya hal itu kembali terkontradiktif. Itu sesungguhnya membuatku merasa pusing. Haha. Tapi apa pun hasil akhirnya, kita lihat nantilah. keep staying here or leaving.

Johna rated it

Inspired by research done in the Netherlands on the World Database of Happiness (page 7), NPR correspondent and self proclaimed grump Eric Weiner decided to travel to the happiest countries in the world to see if he could figure out the secret of happiness.Weiner's tour included The Netherlands, Switzerland, Bhutan, Qatar, Iceland, Moldova, Thailand, Great Britain, India and home to the United States (Florida). Like so many recent travelogues the book quickly stops being about the research and becomes a blow by blow account of the journey. When Weiner pulls himself out of the picture and focuses on the culture of the place he's visiting the book is fascinating. Unfortunately, as he becomes more jet lagged he spends more of his time grousing.The first hundred pages or so are interesting. I especially liked the chapter set in Bhutan and how it contrasted to Qatar. By Iceland, things started to wind down an his observations on human nature began getting repetitive.

Trip rated it

"Perlu kiranya mempertimbangkan karbon. Kita tidak ada di dunia ini tanpa karbon. Karbon adalah dasar semua kehidupan, bahagia dan sebaliknya. Karbon adalah juga sebuah atom bunglon. Susunlah lagi--dalam deretan yang jalin-menjalin dengan ketat--maka Anda akan mendapatkan sebuah intan. Kumpulkan lagi dengan cara yang lain--Anda akan mendapatkan segenggam arang. Penataanlah yang membedakan." "Semua negara yang menderita mirip satu sama lain; negara-negara yang bahagia merasakan kebahagiaan dengan caranya sendiri-sendiri."-hal.485Begitulah Tutur Eric Weiner di Epilog buku ini, saat mengungkapkan perenungannya tentang berbagai kontradiksi yang diamatinya selama pencarian jalan menuju kebahagiaan dari berbagai negara: Belanda, Swiss, Bhutan, Qatar, Islandia,Moldova, Thailand, Inggris, India, dan Amerika. Ya, buku The Geography of Bliss ini adalah hasil proyek Eric Weiner dalam rangka menemukan tempat yang membahagiakan, hasil perjalanannya keliling dunia untuk tujuan itu. Sebuah ide yang agak aneh dan nyeleneh, diulas Eric di Pendahuluan buku ini: bahwa ia keberatan dengan opini yang didapatkannya dari buku-buku self-help, "kebahagiaan terletak jauh di dalam diri. Jika kita tak bahagia, maka kita tak cukup dalam menggali. Menurutnya itu tak benar. "Kebahagiaan tak hanya berada dalam diri kita, tetapi di luar sana. Atau, lebih tepatnya, garis antara di luar sana dan di dalam sini tidaklah ditentukan setegas seperti yang kita kira" (hal.17).Maka Eric pun mengeksplorasi "kebahagiaan di luar sana", mencari kebahagiaan yang kerap kita gabungkan dengan geografi, "seakan-akan kebahagiaan adalah tempat di atas atlas, tempat nyata yang dapat kita kunjungi hanya jika kita mempunyai peta yang tepat dan keterampilan navigasi yang benar" (hal.18). Tapi dari mana memulainya? Belanda menjadi titik awal perjalanan Eric. Di sana, ia mulai mengamati dan mengulik informasi dari institusi yang disebut World Database of Happines (WDH) yang dikelola oleh Profesor Riset Kebahagiaan bernama Ruut Veenhoven. Tentu saja yang dimaksud Eric 'dimana' tak hanya soal lingkungan fisik, tapi juga lingkungan budayanya. Jadi, apa yang membuat orang-orang di sebuah negara bahagia atau murung? Buku unik ini bercerita dan mengeksplorasi soal itu. Seperti kata sinopsisnya, buku ini adalah campuran aneh tulisan perjalanan, psikologi, sains, dan humor. Begitulah, sejak awal buku ini sudah menarik perhatian dengan gagasannya yang unik dan mendorong pembaca untuk membaca lebih lanjut. Di sini, Eric menulis catatan perjalanannya ke berbagai negara, dituturkan dengan santai dan kocak, dibumbui celetukan-celetukannya yang seringkali menimbulkan senyum, kadang mengejutkan dan menarik, kadang konyol. Selain itu, Eric di sini juga membagikan pengetahuannya tentang berbagai riset ilmiah psikologi maupun neurologi dan statistik tentang kebahagiaan, juga opini-opini filosofis yang dikutip dari berbagai tokoh dan buku-buku.Kebahagiaan ternyata kompleks, atau sederhana, atau dua-duanya. Buku ini menyenangkan (dan mengenyangkan), meski aku selesaikan baca dalam waktu yang cukup lambat. Menurutku buku ini bisa dibilang "bergizi" karena menawarkan "sesuatu yang lain", lain dari opini kebanyakan. Salah satu cirinya adalah aku tak tahan ingin mengutip banyak kutipan-kutipan menarik dari buku tersebut. Penemuan-penemuan Eric tentang apa yang membuat orang-orang di beberapa negara bahagia atau tidak bahagia kadang-kadang cukup menggelitik, sebagaimana tersirat dari tiap judul babnya tentang kebahagiaaan di negara-negara yang dia kunjungi: Belanda: Kebahagiaan adalah angkaSwiss: Kebahagiaan adalah kebosananBhutan: Kebahagiaan adalah kebijakanQatar: Kebahagiaan adalah menang lotreIslandia: Kebahagiaan adalah kegagalanMoldova: Kebahagiaan adalah berada di suatu tempat lainThailand: Kebahagiaan adalah tidak berpikirBritania Raya: Kebahagiaan adalah karya yang sedang berlangsungIndia: Kebahagiaan adalah kontradiksiAmerika: Kebahagiaan adalah rumahMenarik. 4 bintang. Cover bukunya juga bagus.